Lazismu Tegal

Sedekah Bukan Sisa THR: Mengapa Justru di Awal Ramadan Kita Harus Berani Memberi?

Ramadan sering identik dengan THR, belanja, dan daftar kebutuhan yang mendadak panjang. Tapi pernahkah kita berpikir, mengapa sedekah justru sering menunggu sisa? Padahal, memberi di awal Ramadan adalah tanda kesiapan hati, bukan sekadar menunggu dompet terasa longgar. Kalau sedekah hanya dari sisa, jangan-jangan yang tersisa bukan uangnya—tapi niatnya.

Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92). Ayat ini jelas sekali: yang bernilai itu bukan yang tidak terpakai, tapi yang kita sayangi. Artinya, memberi di awal—saat kita masih semangat dan harta belum “terbagi-bagi”—justru lebih terasa maknanya.

Secara manusiawi, memberi di awal Ramadan itu seperti membuka pintu kebaikan lebih dulu. Kita bukan menunggu kaya untuk berbagi, tapi berbagi agar hati terasa kaya. Kadang kita terlalu strategis mengatur pengeluaran, sampai lupa bahwa Allah juga punya “strategi balasan” yang jauh lebih besar. Dan tenang saja, sedekah bukan sistem cashback yang harus nunggu notifikasi masuk.

Awal Ramadan adalah momentum membentuk ritme. Kalau di awal kita sudah ringan memberi, insyaAllah di pertengahan dan akhir akan semakin kuat. Sebaliknya, kalau dari awal sudah menunda, biasanya sampai akhir tetap bilang “nanti saja.” Ramadan hanya 30 hari—sayang kalau semangat berbaginya baru muncul di hari ke-29.

Sedekah di awal juga membantu banyak program sosial berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. Kebutuhan masyarakat tidak menunggu THR cair. Berani memberi di awal adalah bentuk empati yang nyata, bukan wacana.

Mari mulai Ramadan dengan langkah terbaik. Salurkan sedekah dan infak Anda melalui Lazismu Kabupaten Tegal, agar kebaikan kita tidak menunggu sisa, tapi lahir dari cinta dan keberanian memberi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *