Aneh tapi nyata. Harusnya puasa bikin hati adem, tapi kenyataannya justru lebih gampang tersulut. Hal kecil terasa besar, antrean terasa lama, suara sedikit keras langsung bikin naik tensi. Lapar belum tentu marah, tapi marah sering datang saat lapar. Kenapa bisa begitu? Karena yang diuji bukan cuma perut, tapi juga ego.
Saat tubuh kekurangan asupan, energi menurun dan emosi lebih sensitif. Ditambah rutinitas tetap berjalan seperti biasa. Akhirnya, respons jadi lebih cepat dari kesabaran. Padahal Rasulullah ﷺ sudah memberi panduan sederhana: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan marah. Jika ada yang mengajaknya bertengkar, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, puasa itu tameng, bukan alasan.
Marah saat puasa bukan dosa otomatis, tapi bisa mengurangi nilai puasanya. Karena inti puasa adalah menahan diri. Kalau lapar saja bisa kita tahan belasan jam, masa satu komentar pedas tidak bisa kita tahan beberapa detik? Di sinilah latihan mental sebenarnya terjadi.
Lucunya, kita bisa sabar menunggu waktu berbuka sambil lihat jam berkali-kali, tapi tidak sabar menghadapi orang yang beda pendapat. Generasi muda mungkin bilang “triggered”, generasi senior bilang “darah tinggi naik”. Padahal solusinya sama: tarik napas, tahan, dan ingat lagi niat puasa.
Mengelola emosi saat puasa butuh kesadaran. Kurangi debat yang tidak perlu, batasi paparan hal yang memicu emosi, dan perbanyak dzikir. Semakin tenang hati, semakin terasa manisnya Ramadan. Karena kemenangan puasa bukan saat azan magrib, tapi saat kita berhasil menahan amarah.
Yuk, jadikan Ramadan sebagai momen memperbaiki hati. Dan sempurnakan dengan berbagi. Salurkan infak terbaik Anda melalui lazismutegal.org bersama Lazismu Kabupaten Tegal, agar puasa kita menenangkan diri sekaligus menguatkan sesama.
